Di saat musim kemarau, tentunya memang menyenangkan bila mengunjungi
destinasi Alam, sehingga kita bisa merasakan keindahan alam dengan
tenang dan cerah. Pantai adalah destinasi tempat wisata yang sangat luar
biasa bila dikunjungi saat musim panas. Tempat wisata pantai di jawa tengah yang terkenal berikut mungkin bisa membantu Anda untuk menemukan tujuan liburan Anda dan keluarga.
Tempat Wisata Pantai Jawa Tengah Terpopuler
Pantai Bopong, Laguna Terindah di Indonesia!
Pantai yang berada di Kebumen ini memiliki laguna yang sangat luar
biasa. Keindahan Alam yang berada di Kebumen Jawa Tengah ini tidak perlu
diragukan lagi. Jika Anda ingin berkunjung ke pantai Bopong ini, letak
lokasinya berada di Desa Surorejan, Kecamatan Puring, Kebumen. Yang
membuat pantai ini sangat menarik adalah "Laguna".
Laguna ini terbentuk dari aliran air sungai yang meliuk-liuk, membentuk
sebuah “pulau” mini yang tentunya menarik untuk dijadikan latar fotomu.
Setelah itu, puas-puasin deh bermain ombak di pantai ini! Penampakan
laguna yang sangat luar biasa dari Pantai Bopong ini tidak boleh di
lewatkan saat bermain atau liburan ke Jawa Tengah.
Pantai Karang Pandan, Hiasan 2 Karang Indah
Siapa yang tidak mengenal pulau Nusa Kambangan, Pulau yang terkenal
karena penjaranya, itu semua karena Lembaga Pemasyarakatan Nusa
Kambangan sangat terkenal. Tetapi, Pulau Nusa Kambangan juga memiliki
kelebihan lain, yaitu berupa Pantai Karang Pandan. Pantai yang berada di
Kabupaten Cilacap ini sangat menawan ini tentunya wajib untuk Anda
kunjungi.
Tempat Wisata Pantai di Jawa Tengah dengan pasir bewarna puth
yang sangat mempesona ini berada di sebelah timur pulau Nusa Kambangan
dan tidak banyak orang tahu, jadi tempat ini masih bersih dan tidak
banyak wisatawan. Panorama Pantai Karang Pandan menjadi semakin cantik
dengan adanya dua pulau karang yang di sebut Pulau Majethi. Pantai ini
juga seringkali dijadikan tempat untuk melakukan larung sesaji.
Pantai Widarapayung, Ombak Dahsyat Untuk Peselancar Handal!
Lagi-lagi berada di Cilacap, pantai Wodarapayung ini adalah tempat wisata pantai
dengan obak terbaik yang ada di Jawa Tengah. Jika Anda adalah seorang
peselancar handal, jangan lupakan pantai Widarapayung ini. Pantai ini
berlokasi di Desa Widara Payung, Kecamatan Bingangun, Cilacap. Ombak
yang sangat besar akan tersaji untuk Anda para pecinta Surfing di
Indonesia.
Pantai Widarapayung ini adalah destinasi wisata pantai terkenal yang
wajib untuk Anda coba. Jika Anda tidak bisa berselancar, Anda bisa
menikmati keindahan dari Pantai terbaik di jawa tengah yang sangat bagus
ini. Selain itu, sisa-sisa bencana tsunami tahun 2006 juga masih bisa
kamu saksikan di pantai ini lewat sebuah tugu peringatan yang dibangun
di sana. Jangan lupa juga untuk menjajal pecel yang rasanya khas karena
menggunakan kecombrang sebagai pelengkapnya.
Pantai Menganti, Pantai Hijau Terindah Serasa di New Zealand
Pantai terindah di Indonesia dengan suasana New Zealand atau selandia
baru, kini telah tersedia di Jawa tengah, tepatnya di Desa Karangduwur.
Kecamatan Ayah, Kebumen memang tempatnya pantai-pantai Terindah. Pantai
yang tidak banyak orang tahu ini dikelilingi oleh bukit yang hijau dan
asri. Keindahan pantai ini dapat terlihat jelas bila dilihat dari bukit
yang berada di sisi pantai.
Itu dia Pantai-pantai terindah
yang terdapat di Jawa Tengah. Kumpulan pantai tersebut semoga dapat
membantu Anda untuk menemukan destinasi wisata terbaik Anda ketika
mengunjungi Jawa Tengah. Semoga Informasi yang menjelaskan "Tempat Wisata Alam Pantai di Jawa Tengah" tersebut dapat membantu Anda dalam berlibur baik bersama teman maupun bersama keluarga. Selamat Berlibur!
Curug Cipendok adalah air terjun dengan ketinggian 92 meter yang
terletak di lereng Gunung Slamet. Curug Cipendok mempunyai daya tarik
tersendiri, karena lingkungan masih betul-betul alami. Kesunyian juga
masih sangat terasa, sebab belum banyak pelancong yang datang menikmati
keindahan alamnya. Hawa di sekitarnya sejuk dan sepanjang jalan menuju
ke sana terdapat area perkebunan. Di sekitar wilayahnya terdapat bumi
perkemahan dan sebuah telaga yang bernama Telaga Pucung.
Sejarah Curug Cipendok
Nama Curug Cipendok bermula dari legenda yang masih berkaitan dengan
sejarah Perang Diponegoro. Perang ini merupakan perang lima tahun
(1825-1830) antara Pangeran Diponegoro melawan Pemerintah Kolonial
Hindia Belanda. Perang yang dimenangkan Belanda itu membuat seluruh
wilayah kerajaan Surakarta termasuk wilayah Dulangmas, meliputi Kedu,
Magelang, Banyumas berada dibawah kekuasaan pemerintahan kolonial.
Perjanjian tersebut tertuang dalam perjanjian Dulangmas.
Salah satu wilayah Banyumas, yaitu Ajibarang, saat itu dipimpin oleh
seorang Wedana Priangan timur bernama Raden Ranusentika. Pada saat itu
diberi tugas untuk melakukan kerja rodi, berupa pembukaan hutan
belantara di sekitar lereng Gunung Slamet untuk dijadikan area
perkebunan. Sudah delapan bulan lamanya beliau memimpin pembukaan hutan
di lereng Gunung Slamet, namun belum juga mendapatkan hasil. Senantiasa
terjadi keanehan, pada saat pohon-pohon selesai ditebang, esoknya tumbuh
lagi seperti semula. Seolah-olah seperti belum pernah ditebang sama
sekali. Kejadian ini terjadi berulang-ulang, sehingga membuat bingung
dan pusing Raden Ranusentika.
Karena baru kali ini menemukan
permasalahan yang aneh, maka kemudian Raden Ranusentika berdoa dan
bermohon kepada Tuhan dengan cara bertapa beberapa saat. Karena merasa
belum mendapat petunjuk juga, beliau kemudian menyudahi bertapanya.
Sembari mengusir kegundahan dan mencari jalan keluar, Raden Ranusentika
pergi memancing ikan di dekat air terjun. Di tengah-tengahnya memancing,
tiba-tiba beliau merasa kailnya seperti ditarik-tarik oleh ikan yang
besar, sampai-sampai gagang pancingnya melengkung.
Namun alangkah terkejutnya, saat pancingnya ditarik bukannya
ikan yang didapat, melainkan sebuah barang mirip cincin yang merupakan
pendok atau cincin warangka keris yang bersinar kuning keemasan. Ketika
didekatkan, tiba-tiba Raden Ranusentika bisa melihat banyak sekali
makhluk halus yang berada di hutan yang telah ditebang habis. Mereka
semua yang selama ini menggagalkan pekerjaan Raden Ranusentika.
Atas
usulan Breden Santa, seorang kepala pekerja, air terjun dimana Raden
Ranusentika menemukan pendok keris, dinamakan Curug Cipendok. Berasal
dari Bahasa Sunda kata curug berarti air terjun dan pendok berarti
cincin dari bilah keris. Selain menemukan pendok, Raden Ranusentika juga
ditemui seorang makhluk halus berujud peri, bernama Dewi Masinten Putri
Sudhem yang bersedia membantu menyelesaikan pekerjaan pembukaan hutan
tersebut. Akhirnya, pekerjaan pembukaan hutan berhasil diselesaikan
dengan baik. Dewi Masinten Putri Sudhem kemudian diboyong ke Kadipaten
Ajibarang, menjadi garwa padmi (selir) dari Raden Ranusentika
Lokasi Curug Cipendok
Curug Cipendok terletak di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok,
Kabupaten Banyumas. Lokasi air terjun ini cukup mudah untuk dicapai.
Jalan menuju lokasi sudah diaspal semua. Sampai lokasi parkir, kemudian
harus berjalan menuju lokasi air terjun. Di jalan menuju lokasi, banyak
warung yang menjajakan Mendoan, susu murni yang bisa ditemukan di
warung-warung rumah penduduk. Perkebunan tomat, cabai dan seledri cukup
menarik dinimati dalam perjalanan menuju lokasi. Belum lagi
sungai-sungai kecil denga air jernih mengalir, bisa mengundang untuk
turun sejenak merasakan sejuk dan jernihnya air pegunungan. Bila hari
besar seperti libur lebaran, lokasi ini cukup ramai dikunjungi setiap
tahunnya.
Keindahan alam Curug Cipendok baru dilirik pemerintah kabupaten Banyumas
pada tahun 1984 dan pembukaannya secara resmi sebagai obyek wisata baru
dilaksanakan pada tanggal 27 Februari 1987 setelah membangun sarana ala
kadarnya, seperti tempat peristirahan dan mushola. Usaha-usaha
peningkatan pelayanan juga masih terus dilakukan. Hal ini terbukti
dengan berbagai langkah yang diambil pemerintah dalam usaha
mempromosikan lewat peta pariwisata Banyumas dan pengadaan sarana demi
saran untuk dapat menunjang kenyamanan pengunjung. Seperti terlihat dari
pembangunan tempat bermain anak, pementasan hiburan, perbaikan jalan,
penambahan obyek wisata yaitu Telaga Pucung yang berada sekitar 500
meter arah barat dari lokasi Curug, dll.
Daya tarik objek wisata
ini adalah telaga dengan air yang cukup jernih dan di sekitarnya
dikelilingi hutan yang masih alami. Selain itu, wisatawan juga dapat
mendengar suara-suara burung langka seperti elang Jawa yang terbang
berputar-putar di atas telaga. Apalagi, bagi pengunjung yang beruntung
dapat melihat spesies endemik sejenis monyet berwarna abu-abu yakni
rek-rek.
Tempat wisata yang masuk dalam wilayah Perhutani
Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur tersebut mulai dibenahi
dengan berbagai fasilitas, karena dijadikan tujuan wisata secara resmi.
KPH Banyumas Timur telah melengkapi dengan tempat parkir, tempat
istirahat, dan kamar mandi. Bahkan, Perhutani telah memberi nama-nama
pohon langka yang hidup di situ. Tujuannya tidak lain diperuntukkan bagi
para pelajar, di samping menikmati alam, mereka juga dapat mengenal
tumbuh-tumbuhan langka yang hidup di tempat itu.
Aksesbilitas
Untuk masuk ke lokasi Curug Cipendok, bisa ditempuh melalui kota
Purwokerto, menuju ke jalan Jend. Sudirman, ke arah alun-alun. Kemudian
lurus menuju ke jalan raya Cilongok sampai pertigaan Losari, sekitar 14
km dari Purwokerto. Selanjutnya, ada tanda berupa rambu lampu kuning,
Anda belok kekanan menuju lokasi dengan jarak sekitar 8 km.[2]
Dari
jalan raya Cilongok menuju lokasi berjarak 8 km dengan kondisi jalan
naik dan berkelok, tapi aspalnya sudah halus. Di sekitar lokasi Curug
Cipendok, ada juga wisata telaga yang sungguh menakjubkan yakni Telaga
Pucung. Telaga setempat dikelilingi oleh hutan pinus dan damar, sehingga
sangat cocok untuk camping ground.
Bagi yang tidak mempunyai
kendaraan pribadi ataupun ingin mengunjungi kawasan Curug Cipendok tanpa
menggunakan kendaraan pribadi, dapat memanfaatkan angkutan umum
(Koperades). Angkutan umum ini mempunyai trayek jalur Ajibarang - Losari
- Kalisari - KarangTengah - Lebaksiu - Curug Cipendok. Pada hari biasa
Koperades ini biasanya hanya melayani rute Ajibarang - Losari - Lebaksiu
(KarangTengah), namun bisa disewa (dicarter) untuk membawa pelancong
yang ingin menuju Curug Cipendok. Biasanya untuk para pelancong yang
ingin menyewa Koperades, bisa mencari di pertigaan Losari (desa
KarangLo).
Antara Curug Cipendok dengan tempat parkir mobil masih
tersisa sekitar 500 meter. Namun jangan khawatir, perjalanan 500 meter
jalan dari pintu masuk menuju curug tidak bakal membuat bosan. Justru
sebaliknya, perjalanan tersebut membuat pengunjung dibawa memasuki alam
yang masih asri. Dengan jalan yang naik turun, wisatawan yang datang
akan disambut dengan suara-suara serangga khas hutan tropis.
Setelah
berjalan sekitar 15-20 menit, sebelum sampai Curug Cipendok akan
terdengar suara gemuruh seperti hujan lebat. Itulah suara air terjun
yang turun dari ketinggian hampir 100 meter tersebut. Udara dingin
ditambah dengan titik-titik air membuat suasana damai dan fresh. Jika
sudah agak siang, sinar matahari yang bersinar membuat pelangi tipis
hasil pantulan titik-titik air yang turun.
Sepanjang ingatan yang mulai memendek, ini adalah kali ketiga saya berkunjung ke Telaga Sunyi Baturraden
yang berada di pinggang Gunung Slamet, masih di dalam kawasan wisata
Baturraden, Banyumas. Kawasan wisata Telaga Sunyi ini berjarak sekitar
2,5 km dari depan atau sebelum pintu gerbang Wanawisata Baturaden, arah ke Timur Laut.
Perjalanan ke Telaga Sunyi Baturraden melewati pinggir padang rumput
milik Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul Sapi Perah. Ini mengungkit
kenangan sewaktu kelas-3 SMA Negeri 1 Purwokerto. Bersama seorang teman
kami ke Balai Besar ini untuk melihat proses inseminasi buatan pada sapi
perah sebagai bahan untuk penulisan tugas akhir.
Setelah melewati padang rumput Balai Besar yang lebarnya tak kurang
dari 425 meter itu jalanan mulai berkelok. Tak berapa lama kemudian kami
melintas di depan Hotel Queen Garden yang ada di kanan jalan.
Selanjutnya kami melewati area Baturraden Adventure Forest di sebelah
kiri sebelum akhirnya sampai di kawasan Telaga Sunyi Baturraden.
Gerbang masuk ke area Wisata Alam Telaga Sunyi Baturraden, dengan loket
pembayaran tiket masuk sebesar Rp. 7.000 per orang berada di bilik di
bagian kanan gerbang. Area parkir cukup luas, dikelilingi pohon-pohon
Damar tinggi yang melindungi pejalan dari panas matahari. Udara
pegunungan yang sejuk ramah menerpa ketika saya turun dari kendaraan.
Beberapa pendopo berukuran sedang tersedia di dekat tempat parkir,
cukup memadai untuk berteduh ketika hujan turun. Lapangan rumput di
bawah pepohonan, dengan beberapa buah permainan anak di dalamnya, tampak
bersih dan terawat. Jalan setapak teduh diapit pepohonan tinggi kami
lalui ketika menuju ke lokasi utama Telaga Sunyi Baturraden.
Jalan setapak itu kemudian berbelok ke kanan, melipir melawan aliran
air di selokan kecil di sisi kanan jalan setapak yang airnya sangat
jernih. Sementara di sisi kiri bawah adalah sungai yang meneruskan
aliran air dari Telaga Sunyi Baturraden, dengan serakan batu gunung
berukuran besar di sepanjang badan sungainya. Air sungai juga sangat
bening.
Rekahan batu gunung berukuran besar ini berada di sebelah bawah Telaga
Sunyi Baturraden, menjadikannya jalur aliran sungai yang menampung
limpahan air dari telaga. Air yang mengalir sungguh jernih, bening tanpa
cela, sehingga dasar batuannya terlihat sangat jelas. Bebatuan di
sekitar sungai menjadi tempat nongkrong nyaman, dan bagus untuk selfi.
Kali kedua pergi ke tepian Telaga Sunyi Baturraden ini hanya ada
sepasang muda-mudi yang tengah bercengkerama di tepian telaga yang
berbentuk seperti kantung ini. Tempat yang hening sejuk ini membuat
orang betah duduk berlama-lama, mengamati beningnya air. Lumut yang
tumbuh di dasar sungai memberi pantulan warna yang elok pada air yang
jernih ini.
Bagian ujung Telaga Sunyi Baturraden, dengan sebagian dasar air berwarna
kehijauan, dan serakan bebatuan besar di sisi kanannya. Tebing pada
ujung foto menjadi dinding curug kecil yang airnya jatuh ke dalam
telaga. Kali ketiga saya datang ke sini, tempat ini cukup ramai, dengan
sejumlah penyelam berdiri menggigil kedinginan di tepian telaga.
Mereka baru saja menyelam ke dasar telaga yang dalamnya mencapai 5
meter ini, serta mengambil foto yang dipamerkannya ke sejumlah
pengunjung. Air di sini memang sangat dingin, membuat pori-pori
mengkerut dan seketika menyegarkan wajah saat dibasuhkan. Karena
kedalaman dan dinginnya air Telaga Sunyi inilah ada tanda larangan mandi
di sini.
Meskipun baru saja diselami oleh orang-orang itu, namun air telaga
tampak tak berubah, tetap saja jernih dan menawan. Bebatuan di dasar
telaga pun masih terlihat sangat jelas karena permukaan air Telaga Sunyi
Baturraden juga sangat tenang. Suasananya masih sangat alami, hanya
akses jalannya saja yang diperbaiki dan sedikit sentuhan lainnya.
Meskipun area di sekitar lokasi utama Telaga Sunyi Baturraden agak
sempit, dengan sisi kanan telaga berbatas tebing, namun tersedia cukup
banyak bebatuan di seberang sungai yang nyaman untuk nongkrong. Tak
terlihat ada warung dan pedagang asong di tempat ini, karena lokasinya
memang jauh dari permukiman dan tak ada layanan angkutan umum reguler. Telaga Sunyi Baturraden selengkapnya: 4.Tengara 5.Kali 6.Lumut Hijau 7.Jernih 8.Dasar Telaga 9.Kehijauan 10.Bening 11.Berpagar 12.Area Pandang 13.Batuan Beku 14.Jalan Setapak 15.Pendopo 16.Bening 17.Kristal 18.Selfi 19.Mengisi Air 20.Selam
Anda sedang menikmati libur akhir tahun di Jogja? Jika
sudah pernah menikmati keriuhan pergantian tahun di pusat kota, tak ada
salahnya mencoba merayakan momen tutup tahun dalam suasana syahdu alam
desa. Bagi Anda yang ini merasakan pengalaman yang berbeda, berikut
alternatif liburan di kawasan timur Jogja. Tepatnya di daerah Imogiri,
Bantul. Memulai Perjalanan; Menikmati Keasrian Alam Pedesaan
Kemasi barang-barang anda, bawalah tenda, dan bersiaplah
untuk menikmati suasana asri pedesaan. Imogiri Timur adalah kawasan di
mana Anda bisa dengan mudah menemukan bentang hijau persawahan di kanan
kiri jalan dan desa-desa wisata berbasis alam dan pertanian. Salah
satunya adalah Desa Wisata Kedungmiri yang terletak di Padukuhan Wunut,
Sriharjo, Imogiri.
Keunggulan desa wisata ini adalah, bentang alamnya yang
dikelilingi perbukitan karst dan dibelah aliran Sungai Oya. Pemandangan
yang sangat menyegarkan mata. Perbukitan karst yang subur membentuk
sistem sawah berundak yang dinamai terasering Sangupati. Terasering yang
bertingkat-tingkat seolah terpahat indah di bukit karst. Berwarna
hijau, berpadu indah dengan legam batuan kapur perbukitan. Sedangkan
Sungai Oya yang membelah pedukuhan, mencipta tengara primadona yaitu
Jembatan Gantung Siluk yang lebih dikenal sebagai Jembatan Gantung
Selopamioro. Jembatan sepanjang 70 meter yang membelah 2 desa,
Selopamioro dan Sriharjo ini berwarna kuning, kontras dengan coklat air
Sungai Oya saat musim penghujan. Di sisi utara dan selatan jembatan,
perbukitan karst menjulang. Dari ujung timur menuju ujung barat, aliran
Sungai Oya mengular.
Dirikanlah tenda di salah satu ujung jembatan yang merupakan camp ground.
Tanah lapang yang ditumbuhi pohon jati, tepat di pinggir sungai. Tapi
jangan lupa untuk meminta ijin ke Kepala Dukuh Wunut. Menghitung mundur
momen tutup tahun dalam lingkaran unggun bersama obrolan hangat dan
secangkir kopi nikmat, menjadi kegiatan menyenangkan meski jauh dari
keramaian. Tak perlu tidur terlalu malam karena petualangan yang
sebenarnya baru akan dimulai saat pagi datang.
Awali pagi pertama di tahun baru dengan bangun lebih dini.
Nikmati bias mentari pagi dari puncak perbukitan, segar udara pedesaan,
gemericik alunan sungai, dan cericit burung menyambut pagi. Lalu,
abadikan terbitnya mentari dalam bingkai tebing karst dari ruas Jembatan
Gantung Selopamioro. Nah saat aktivitas masyarakat mulai mengeliat,
berkemas dan nikmatilah suasana pagi di pedesaan. Berkeliling
persawahan. Menyapa ramah para petani yang mulai datang menggarap
ladang. Museum Tani Jawa; Belajar Kearifan Moyang dalam Bercocok Tanam.
Selepas menikmati indahnya pagi dengan berkeliling
persawahan, kenapa tidak mampir sejenak untuk belajar tentang seluk
beluk pertanian? Di Desa Wisata Kebonagung, tepatnya di Dusun Tani
Cadran terdapat Museum Tani Jawa. Berbentuk bangunan khas Jogja, Joglo.
Museum yang buka pada hari Senin hingga Minggu mulai pukul 08.00 - 15.00
WIB ini, menyimpan berbagai alat pertanian baik tradisional maupun
modern. Diantaranya lesung, lumping, luku/bajak, sabit/arit, ani-ani,
garu, cowek, caping, cangkul, gosrok dan genthong. Alat-alat pertanian
yang terkadang hanya dapat kita dengar namanya tanpa bisa melihat
bentuknya.
Dengan mengunjungi Museum Tani Jawa, Anda juga dapat
mengenal nilai sejarah dan kearifan pertanian Jawa pada khususnya.
Berbagai informasi mengenai kegiatan museum ini pun tersaji lengkap
lewat artikel-artikel yang terawat dan terdokumentasikan dengan baik.
Jika beruntung, Anda dapat melihat kegiatan-kegiatan menarik yang
diselenggarakan oleh pengelola. Seperti pentas seni tradisional,
perlombaan tandur (tanam) padi, pameran hasil pangan, festival memedi
sawah, dan juga festival boneka. Hutan Pinus Imogiri; Sejenak Melepas Lelah.
Siang menjelang, matahari mulai meninggi. Namun masih ada
tempat wisata yang perlu Anda kunjungi yaitu Hutan Pinus Imogiri. Hutan
pinus yang berada di daerah Dlingo, Mangunan, Imogiri ini merupakan
hutan lindung yang asri. Karena letaknya yang tergolong tinggi, udara
dingin nan sejuk dapat Anda nikmati di sini. Meski hutan ini selalu
ramai dikunjungi namun tak ada kesan sesak karena areanya yang luas.
Bangku-bangku buatan dari pohon pinus yang tumbang banyak tersedia.
Beristirahatlah sejenak, melepas lelah di atas guguran daun
pinus sambil menikmati semilir angin. Sinar mentari yang mengintip
diantara pepohonan pinus menjadi pemandangan yang sayang untuk
dilewatkan. Jangan lupa untuk berfoto bak model profesional, Hutan Pinus
Imogiri memang populer sebagai lokasi hunting foto bahkan pre-wedding.
Deretan pinus yang tumbuh subur teratur tak kalah cantik dengan
hutan-hutan yang sering dijadikan lokasi syuting film di luar negeri. Membeli Oleh-Oleh; Batik Giriloyo dan Wedang Uwuh Khas Imogiri.
Hari beranjak menuju sore, saatnya bersiap untuk mengakhiri
perjalanan di awal tahun baru ini. Namun ada 1 hal yang tak boleh
dilewatkan, membeli oleh-oleh. Turun dari daerah Dlingo, datanglah ke
Kampung Batik Giriloyo yang merupakan sentra batik tulis di Jogja.
Kampung ini juga sering dijadikan sebagai lokasi syuting karena
suasananya yang masih asri dan tradisional.
Di Giriloyo, sebagian besar kaum perempuannya dari muda,
separuh baya, sampai yang sudah renta adalah pengrajin batik. Dengan
tekun mereka menggoreskan canthing, melestarikan warisan leluhur yang
telah diakui UNESCO sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity pada tahun 2009.
Sudah membeli oleh-oleh kain batik? Masih ada 1 minuman
khas Imogiri yang perlu Anda beli yaitu Wedang Uwuh. Wedang Uwuh terbuat
dari jahe, kayu secang, kayu manis, cengkeh, kapulaga, sereh, dan pala
yang diseduh dengan air panas serta gula batu. Warnanya merah cerah,
aromanya harum, dan rasanya manis sedikit pedas. Kini, Wedang Uwuh
terkemas praktis dan cocok dibawa sebagai oleh-oleh. Harganya pun sangat
terjangkau. Menutup Perjalanan; Mencicip Kuliner Sate Klathak.
Saatnya pulang. Namun kurang lengkap rasanya jika Anda
belum mencicipi kuliner terkenal khas Imogiri, Sate Klathak. Kuliner ini
sering diliput oleh media lokal maupun nasional karena 2 keunikan.
Pertama, karena hanya dibumbui dengan garam. Kedua, karena penyajiannya
yang menggunakan jeruji sepeda. Penggunaan jeruji ini dipercaya dapat
menghantarkan panas yang baik sehingga daging dapat matang dengan
sempurna saat dibakar. Meskipun diolah dengan cara yang berbeda, rasa
Sate Klathak tak kalah nikmat dengan jenis sate lainnya. Tak percaya?
Buktikan saja!
Semua alternatif wisata ini berada dalam garis wilayah yang
sama. Dimulai dari lokasi terjauh dan diakhiri dengan lokasi terdekat
dengan pusat kota. Jadi, Anda tak perlu takut boros waktu dan bahan
bakar. Dengan mencoba petualangan seru dan mendapat pengalaman baru,
semoga liburan akhir tahun Anda semakin berkesan.
Selamat menikmati liburan!
Letak Curug Bayan Kalipagu Banyumas hanya beberapa puluh langkah dari lokasi Dam Jepang Kalipagu,
dicapai melalui jalan setapak di sebelah kiri Villa Curug Bayan yang
berdiri di tepian Kali Banjaran, dengan pemandangan langsung ke arah Curug Bayan dan Dam Jepang.
Curug Bayan berada di Dusun Kalipagu, Desa Ketenger, Kecamatan
Baturraden, Kabupaten Banyumas. Ketinggian Curug Bayan Kalipagu ini
mencapai 7 meter, berada di aliran Kali Banjaran yang tak begitu besar
debit airnya, terutama jika tidak sedang berada di tengah musim
penghujan.
Tampaknya belum ada angkutan umum reguler yang melayani pejalan untuk
mencapai lokasi Curug Bayan, sehingga untuk ke sana lebih baik
menggunakan kendaraan sendiri. Jika pun ada maka mungkin merupakan
angkutan pedesaan yang jadwalnya tak menentu, bergantung pada
terkumpulnya penumpang.
Seorang anak kecil tengah duduk di sebuah batu besar mengamati dua
temannya yang sedang asik bermain air di bagian bawah Curug Bayan
Kalipagu yang dibendung sehingga membentuk kolam dengan air alam yang
tenang dan sangat jernih.
Ada beberapa tingkatan bendungan kecil buatan di aliran Kali Banjaran
ini yang membentuk kolam-kolam renang alam yang menjadi pilihan elok
untuk mandi dan bermain air pegunungan yang dingin segar, ketimbang
bermain di kolam renang buatan yang ada di villa.
Ketinggian Curug Bayan Kalipagu yang mencapai 7 meter ini telah
menciptakan kedung cukup dalam pada kolam air di bawah curug. Musim
hujan belum lagi tiba ketika saya berkunjung ke Curug Bayan Kalipagu,
sehingga alir airnya tidak begitu deras dan sangat jernih.
Kedung Curug Bayan Kalipagu cukup lebar dengan kolam air tenang yang
bisa sangat mudah menggoda pengunjung untuk mencebur. Serakan batuan
besar kecil di Kali Banjaran membantu memberi suasana sekitar curug, dan
menjadi tempat nongkrong untuk menikmati pemandangan sekitar.
Bangunan kayu bertingkat Villa Curug Bayan di tepi Kali Banjaran,
beberapa puluh meter di bawah Curug Bayan Kalipagu. Sumber air berlimpah
dan jernih, udara dingin menjelang sore mendatangkan kabut romantis,
membuat biaya perawatan villa di wilayah pegunungan semacam ini menjadi
rendah.
Tidak perlu listrik untuk menghidupkan AC, tidak perlu air pam untuk
mengisi kolam renang, dan tidak pula perlu zat kimia untuk penjernihnya.
Di latar belakang sebelah kiri adalah fondasi jembatan buatan Belanda
yang pernah menopang Rel Lori PLTA Ketenger dan kini sudah tidak
berfungsi lagi.
Tumbuhan paku-pakuan rimbun yang menempel pada batang pohon menarik
perhatian saya ketika berjalan meninggalkan Curug Bayan Kalipagu. Ada
pula Surge Tank di atas tebing di sisi sebelah kiri Curug Bayan
Kalipagu. Surge Tank ini merupakan bagian dari konstruksi PLTA Ketenger
yang dibangun Belanda pada 1939, dan masih berfungsi hingga saat ini.
Pipa beton memanjang dan Kolam Tando PLTA Ketenger
bisa dibaca pada tulisan berikutnya. Jika ada waktu, sekitar 1 km di
sebelah Barat Dusun Kalipagu terdapat Hutan Damar yang dikenal sebagai
Bukit Cendana. Ada pula Batu Lumpang yang terletak 1 km sebelah Utara
Dusun Kalipagu yang dipercayai merupakan peninggalan bersejarah.
Akses ke Curug Bayan Kalipagu dari Terminal Purwokerto: Ke arah utara
di Jalan Suwatio menuju Jalan Gerilya 0,5 km; belok kiri menuju Jalan
Gerilya Jalan melalui 1 bundaran 4,0 km, terus ke Jalan Veteran 0,9 km;
belok kanan untuk tetap di Jalan Veteran 1,4 km; belok kiri menuju Jalan
Yos Sudarso 1,2 km, terus ke Jalan Patimura 0,2 km; belok kanan menuju
Jalan Raya Karanglewas 0,6 km, belok sedikit ke kanan menuju Jalan
Kertawibawa 1,8 km, belok sedikit ke kiri menuju Jalan Raya
Kedungbanteng 2,6 km, terus ke Jalan Raya Keniten, lanjut lewat
Kalikesur, 8,1 km lagi.
Foto Curug Bayan Kalipagu Banyumas selengkapnya: 4.Bendung 5.Kalipagu 6.Jembatan Belanda 7.Batuan 8.Pusaran Air 9.Kedung 10.Sungai Banjaran 11.Paku-Pakuan 12.Surge Tank
Magelang seolah tak berhenti menebar
pesona, kali ini ada tempat wisata yang sedang menjadi tren baru di
Magelang, wisata hutan pinus. Saya pertama kali ngeh ada tempat wisata
ini dari foto-foto Instagram Simon Onggo, setelah bertanya akhirnya saya segera meluncur ke hutan pinus yang rupanya dinamai Wisata Top Selfie Pinusan Kragilan.
Lokasinya berada di Kaponan, Pakis, yang
merupakan kecmatan paling ujung di Magelang dan berada di lereng
Merbabu. Tentunya hawa dingin langsung menyergap begitu saya sampai di
lokasi Top Selfie Pinusan Kragilan. Wisata ini masih baru, sebulanan ini
baru jadi tren karena banyak yang posting di facebook dan instagram,
hutan pinus yang menjadi perbincangan lokal di Magelang.
Pengunjung terus mengalir ketika saya
datang, pasti mereka sama penasarannya dengan saya, penasaran dengan
hutan pinus ini. Tiket masuk hanya Rp 2.000 untuk motor dan Rp 5.000
untuk mobil, tidak ada pungutan lain selain tiket itu tadi.
Hutan pinus ini terletak di lereng
bukit, tidak tampak dari pinggir jalan raya. Pengunjung harus mengikuti
jalanan beton sempit menuju hutan pinus. Lantas setelah merayapi bukit,
kita akan tiba di lereng yang terlindungi bukit dan di sinilah lokasi
Top Selfie Pinusan Kragilan berada. Sejauh mata memandang memang hanya
ada pinus, hutan ini tersembunyi sampai lokasi wisata ini kemudian
dipopulerkan.
Dinamai Top Selfie karena memang banyak yang berfoto selfie di tempat ini. Turunan curam menuju tempat parkir memang menjadi spot selfie paling populer, mulai selfie dengan tongsis dan hape sekadarnya sampai selfie serius dengan kamera DSLR, orang-orang datang dan ber-selfie dengan rupa-rupa gaya mereka.
Selfie dulu karena di sini namanya Top Selfie kan?
Hutan Pinus ini memang indah, teduh saat
siang, tenang semilir angin, cocok untuk yang ingin bersantai dari
penat. Bagi penghobi foto, bisa mengeskplorasi hutan pinus ini yang
belum semua terjelajahi, dijamin akan menemukan titik foto bagus di
tempat ini.
Ada beberapa bagian hutan pinus yang
dibangun seperti tempat parkir motor dan mobil, beberapa warung dan juga
dek yang dipasang di pohon pinus. Untuk mengeksplorasi tempat ini sudah
ada jalan setapak menuju bagian dalam hutan pinus. Sekilas hutan ini
tampak kecil, tapi setelah dijelajahi rupanya luas juga dan melelahkan.
Jika ingin bertualang bisa menuruni
lereng hutan pinus dan menuju Sungai Selo Tumpang. Ketika saya turun ke
sungai rupanya debit airnya sedang kering karena musim kemarau.
Pemandangan ketika menuruni lereng sangat magis, pinusnya merunduk
teduh, menyapa hangat pengunjung yang datang.
Hutan Spot Foto
Sesuai namanya, Top Selfie Pinusan
Kragilan memang tempat yang diperuntukkan untuk berfoto. Mayoritas
berfoto selfie, tapi jika dijelajahi tempat ini bagaikan taman bermain
raksasa untuk para penghobi foto.
Coba bayangkan jika kabut masih turun tempat ini bisa menjadi tempat foto pre wedding yang magis. Para pencari cahaya juga bisa mengambil foto dari cahya mentari yang menerobos daun dan pohon pinus nan tinggi.
Saya mengkhayal seandainya dikembangkan tempat ini bisa menjadi tempat untuk hunting foto, mulai dari foto landscape, foto pre wedding,
foto perpisahan kelas, foto iklan dan macam-macam. Setidaknya dari apa
yang ada seperti kontur, hutan pinus dan panorama alam yang disediakan,
tempat ini menjanjikan untuk menjadi salah satu tempat berburu foto.
Bisa juga tempat ini jadi syuting video,
kalau melihat ambience di sini, cocok untuk syuting video a la band
post rock, atau video timelapse memanfaatkan Ray of Light,
hembusan angin sampai kabut yang di pagi hari masih memeluk tempat ini.
Perlu waktu untuk mengembangkan tempat ini, namun setidaknya melihat
animo besar mereka yang berfoto maka Top Selfie Pakisan Kragilan bisa
menjadi hutan khusus untuk foto-foto di Magelang.
Foto-foto a la InstagramFoto-foto a la InstagramFoto-foto a la Instagram
Warga Berdaya
Top Selfie Pakisan Kragilan baru populer
sebulan ini dan baru mulai dikembangkan sejak dua bulan silam. Siapakah
di balik kepopuleran tempat ini? Masyarakat, warga Kragilan-lah yang
mengembangkan, mempromosikan dan mengelola tempat ini.
Warga Kragilan kemudian membuat struktur
organisasi pengelola. Mereka yang termasuk pengelola mengenakan seragam
biru hitam dan berbagi tugas, mulai dari mengatur jalan, menjaga loket
masuk, menjaga tempat parkir sampai menjadi pemandu yang tersebar di
area Top Selfie Pakisan Kragilan.
Saya salut dengan semangat warga ini,
pemasukan yang didapatkan dari loket masuk akan masuk ke kas dusun
kemudian bagi hasil dengan warga yang turut mengelola tempat ini. Garis
organisasinya tampak jelas di lapangan, ada koordinatornya, ada
penanggungjawabnya dan semuanya bekerja dengan tugasnya masing-masing.
Warga mengatur pengunjung yang datang dan menarik tiket masuk
Nama Top Selfie juga masyarakat yang
mencetuskan. Mereka menganggap namanya unik dan menjual, maka jadilah
nama tersebut digunakan sebagai nama hutan pinus ini.
Apa yang dilakukan oleh Warga Kragilan
adalah konsep cerah pengelolaan pariwisata oleh masyarakat. Di mana
masyarakat melihat potensi yang dimiliki daerahnya, memiliki kemauan
untuk mengembangkan daerahnya sendiri. Mengelola mulai dari loket masuk
sampai kebersihan sampah, semua oleh warga, berdikari demi daerah
sendiri.
Daya dan upaya warga ini perlu didukung.
Maka datanglah ke Top Selfie Pakisan Kragilan, dengan kita datang
minimal kita sudah memberikan sesuatu untuk warga. Dengan mempromosikan
maka warga akan senang, upaya mereka akan dikenal.
Di masa yang akan datang, seiring
populernya tempat ini. Semoga warga akan mengelolanya dengan benar,
membangun infrastruktur yang lebih memadai, memberikan alokasi dana
untuk kebersihan dan upaya untuk menjaga alam di sekitar tempat ini
supaya pengelolaan pariwisata yang mereka lakukan bisa berlanjut di masa
yang akan datang. Semoga warga semakin berdaya dan belajar pengelolaan
pariwisata dengan lebih baik lagi.
Lokasi
Lokasi tempat wisata ini ada di Desa
Kaponan, Pakis, Magelang. Nah, jika ingin menuju hutan pinus Top Selfie
Pakisan Kragilan maka bisa menempuh tiga alternatif jalur.
1. Jalur Muntilan/Blabak – Ketep. Dari
Ketep mengambil jalur ke arah Kopeng, kira-kira 4 kilometer dari Ketep
di sebelah kiri jalan akan terlihat spanduk Top Selfie Pakisan Kragilan.
2. Jalur Kopeng. Dari Kopeng ikuti jalur ke arah Ketep, Top Selfie akan ada di kanan jalan setelah memasuki daerah Kaponan
3. Jalur Candimulyo. Dari arah
Candimulyo menuju Kaponan, setelah bertemu pertigaan jalur Kopeng-Ketep
ambil ke kiri/ke arah Kopeng. Top Selfie Pakisan Kragilan akan ada di
kiri jalan.
Jalur menuju Top Selfie Pakisan Kragilan
Estimasi waktu tempuh dari Magelang
sekitar satu jam perjalanan dengan motor dan satu setengah jam
perjalanan dengan mobil. Saya menyarankan lebih baik menggunakan motor
jika ke sana, jalur menuju Ketep sedikit rusak di jalur Blabak-Sawangan,
pun jalur di dalam hutan pinus sempit dan susah untuk mobil berpapasan,
lokasi parkir mobil pun terbatas.
Koordinat di GPS atau Google Maps : 7 27′ 39.4″ S, 110 23′ 08.6″ E
Tabik.
Seluruh foto diambil dengan Fuji Film XQ-2
Istri Selfie a la ala modelIstri Selfie a la ala model